Selasa, 28 Oktober 2008

Mengenal Autis dan Ciri - ciri nya

Banyak sekali definisi yang beredar tentang Autis. Tetapi secara garis besar, Autis, adalah gangguan perkembangan khususnya terjadi pada masa anak-anak, yang membuat seseorang tidak mampu mengadakan interaksi sosial dan seolah-olah hidup dalam dunianya sendiri. Pada anak-anak biasa disebut dengan Autis Infantil. Schizophrenia juga merupakan gangguan yang membuat seseorang menarik diri dari dunia luar dan menciptakan dunia fantasinya sendiri: berbicara, tertawa, menangis, dan marah-marah sendiri.

Tetapi, ada perbedaan yang jelas antara penyebab dari Autis pada penderita Schizophrenia dan penyandang Autis Infantil. Schizophrenia disebabkan oleh proses regresi karena penyakit jiwa, sedangkan pada anak-anak penyandang Autis Infantil terdapat kegagalan perkembangan.

Gejala Autis Infantil timbul sebelum anak mencapai usia 3 tahun. Pada sebagian anak, gejala-gejala itu sudah ada sejak lahir. Seorang ibu yang sangat cermat memantau perkembangan anaknya sudah akan melihat beberapa keganjilan sebelum anaknya mencapai usia 1 tahun. Yang sangat menonjol adalah tidak adanya atau sangat kurangnya tatap mata.

Untuk memeriksa apakah seorang anak menderita autis atau tidak,digunakan standar internasional tentang autis. ICD-10 (InternationalClassification of Diseases) 1993 dan DSM-IV (Diagnostic andStatistical Manual) 1994 merumuskan kriteria diagnosis untuk Autis Infantil yang isinya sama, yang saat ini dipakai di seluruh dunia.

Kriteria tersebut adalah:

Untuk hasil diagnosa, diperlukan total 6 gejala (atau lebih) dari
no. (1), (2), dan (3), termasuk setidaknya 2 gejala dari no. (1) dan
masing-masing 1 gejala dari no. (2) dan (3).

  1. Gangguan kualitatif dalam interaksi sosial yang timbal balik.
  • Minimal harus ada dua dari gejala-gejala di bawah ini:Tak mampu menjalin interaksi sosial yang cukup memadai:
    kontak mata sangat kurang, ekspresi muka kurang hidup, gerak-
    gerik kurang tertuju.
  • Tidak bisa bermain dengan teman sebaya. - Tak ada empati (tak dapat merasakan apa yang dirasakan orang
    lain).
  • Kurang mampu mengadakan hubungan sosial dan emosional yang
    timbal balik.

2. Gangguan kualitatif dalam bidang komunikasi. Minimal harus adasatu dari gejala-gejala di bawah ini:

  • Perkembangan bicara terlambat atau sama sekali tak berkembang.Anak tidak berusaha untuk berkomunikasi secara non-verbal. Bila anak bisa bicara, maka bicaranya tidak dipakai untuk berkomunikasi.
  • Sering menggunakan bahasa yang aneh dan diulang-ulang.
  • Cara bermain kurang variatif, kurang imajinatif, dan kurang dapat meniru.

3. Adanya suatu pola yang dipertahankan dan diulang-ulang dalam perilaku, minat, dan kegiatan. Minimal harus ada satu dari gejala di bawah ini:

  • Mempertahankan satu minat atau lebih dengan cara yang sangat khas dan berlebihan.
  • Terpaku pada suatu kegiatan yang ritualistik atau rutinitas yang tidak ada gunanya.
  • Ada gerakan-gerakan aneh yang khas dan diulang-ulang.
  • Seringkali sangat terpukau pada bagian-bagian benda.

Sebelum umur 3 tahun tampak adanya keterlambatan atau gangguan dalam
bidang:

a. interaksi sosial,
b. bicara dan berbahasa,
c. cara bermain yang monoton, kurang variatif.

Autis bukan disebabkan oleh Sindroma Rett atau Gangguan
Disintegratif Masa Kanak. Namun, kemungkinan kesalahan diagnosis
selalu ada, terutama pada autis ringan. Hal ini biasanya disebabkan
karena adanya gangguan atau penyakit lain yang menyertai gangguan
autis yang ada, seperti retardasi mental yang berat atau
hiperaktivitas.

Autis memiliki kemungkinan untuk dapat disembuhkan, tergantung dari
berat tidaknya gangguan yang ada. Berdasarkan kabar terakhir, di
Indonesia ada 2 penyandang autis yang berhasil disembuhkan, dan kini
dapat hidup dengan normal dan berprestasi. Di Amerika, dimana
penyandang autis ditangani secara lebih serius, persentase
kesembuhannya lebih besar.

Bila Anda membutuhkan informasi yang lebih detail tentang autis,
silakan menghubungi alamat di bawah ini:

- Pusat Pelayanan Gangguan Perkembangan Anak Fakultas Psikologi
(P2GPA) Unika Soegijapranata Jl. Imam Bonjol 186 A, Semarang 50132
Telp. (024) 554613

- Perkumpulan Orangtua Pembina Anak Autistik (POPAA)
Jl. Erlangga Tengah III/34, Semarang
Telp. (024) 313083

- Yayasan Autisma Indonesia
Jl. Buncit Raya No. 55, Jakarta Pusat
Telp. (021) 7971945 - 7991355

Sumber diambil dari:

Kumpulan Artikel Psikologi yang terdapat di Situs Angelfire
http://www.angelfire.com/mt/matrixs/psikologi.htm#Mengenal%20Autisme

Senin, 20 Oktober 2008

Sekolah Maya

Situs Sekolah Maya merupakan situs percontohan penggunaan teknologi komunikasi dan informasi untuk alternatif sistim belajar. Situs ini dirancang dan dikembangkan sebagai solusi alternatif pelaksanaan Program Paket A, Paket B, dan Paket C.

Situs Sekolah Maya ini dikembangkan oleh Direktorat Pendidikan Kesetaraan, Direktorat Jendral Pendidikan Luar Sekolah dari Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia.

Maksud dan tujuan dikembangkannya situs ini adalah sebagai solusi alternatif tentang program pembelajaran luar sekolah.

Dengan adanya situs ini, setiap pribadi yang ingin melakukan pembelajaran jarak jauh dapat menikmati program ini untuk dapat mengikuti paket-paket yang disediakan. Kendala jarak, waktu, dan ruang yang mungkin sebelumnya menjadi pembatas diharapkan dapat semakin terkikis.

Selain program sekolah maya ini, Direktorat Pendidikan Kesetaraan juga melakukan beberapa program lain untuk mengatasi kendala-kendala yang dapat menghambat program-program pendidikan. Adapun program-program lain tersebut antara lain adalah;

1. Program kelas berjalan (mobile class)
2. Program kelas daerah bencana (disaster recovery class)
3. Program pembelajaran rumah (home schooling)
4. Program kelas interaktif (multimedia learning)
5. dll,

Situs ini terbuka bagi siapa saja yang ingin memperoleh pendidikan alternatif dengan melakukan pembelajaran secara online.

Diambil dari : sekolah maya

Jumat, 17 Oktober 2008

Laskar Pelangi

Laskar Pelangi adalah novel pertama karya Andrea Hirata yang diterbitkan oleh Bentang Pustaka pada tahun 2005. Novel ini bercerita tentang kehidupan 10 anak dari keluarga miskin yang bersekolah (SD dan SMP) di sebuah sekolah Muhammadiyah di pulau Belitong yang penuh dengan keterbatasan.



Cerita terjadi di desa Gantung, Kabupaten Gantung, Belitung Timur. Dimulai ketika sekolah Muhammadiyah terancam akan dibubarkan oleh Depdikbud Sumsel jikalau tidak mencapai siswa baru sejumlah 10 anak. Ketika itu baru 9 anak yang menghadiri upacara pembukaan, akan tetapi tepat ketika Pak Harfan, sang kepala sekolah, hendak berpidato menutup sekolah, Harun dan ibunya datang untuk mendaftarkan diri di sekolah kecil itu. Lalu bagaimanan selanjutnya ? Penasaran khan ? nonton aja filmnya khan sudah beredar di bioskop 21 sejak 25 September 2008 lalu, tapi untuk sementara klik aja movie trailer diatas.

Selasa, 14 Oktober 2008

Kapan Bahasa Asing mulai dikenalkan kepada anak ?

Di era Globalisasi ini, ada anggapan bahwa semakin muda usia semakin mudah seorang anak belajar bahasa dibanding orang dewasa. Namun disisi lain juga ada yang berpendapat apakah dengan belajar bahasa asing sejak dini tidak membuat anak bingung ? contoh soal seorang artis Cynta Laura yang mana dalam hal bertutur kata atau bercakap-cakap dia mengalami sedikit kebingungan dan timbulnya tata bahasa yang keluar dari ucapannya sangat berantakan sekali dan dengan demikian apakah itu tidak membuat si anak nantinya akan merasa minder bila bertemu dengan teman yang biasa suka usil dan mengejek ?

Jadi belajar bahasa asing sejak dini bukanlah merupakan jaminan kepada si anak menjadi lebih dari anak sebaya lainnya, mengapa ? Karena dengan belajar bahasa asing anak merasa terbebani secara psikologis karena si anak baru saja mengenal bahasa ibu dan baru mulai memahami secara perlahan namun tiba-tiba dia harus menguasai bahasa asing disekolahnya (sekolah Dwi Bahasa) kemungkinan akan timbul pengaruh kepada sistem kerja otak yang pada akhirnya akan mempengaruhi pula kepada kemampuan si anak untuk bidang lainnya. Oleh karena itu kepada para orang tua, mulailah berpikir secara bijak dan sayangilah buah hati kita, janganlah tergesa-gesa atau memaksakan supaya anak kita mampu menguasai bahasa asing sejak dini seperti yang kita harapkan. Ingat semua itu ada batasan-batasan usia atau perkembangannya, kalau anak tersebut mampu pada usia 6 tahun kenapa tidak ? Namun sejauh ini banyak para orang tua yang tidak memahami perkembangan anaknya, melihat anak tetangga mampu berbahasa asing lalu latah dan memaksakan kepada anaknya agar tidak ketinggalan dengan anak tetangga tersebut. Bukankah demikian Bapak/Ibu ? Nah mulailah berpikir bijak dan lebih dekat lagi kepada buah hati kita, sayangilah mereka karena mereka adalah penerus keluarga dan bangsa Indonesia tentunya.